Jumat, 04 Oktober 2013

Penawaran [25 of 1001]

Aku masih menginginkan kita.
Baiklah, akan kutawarkan hal lainnya, sekiranya ini bisa jadi peluang bagi kita.
Pasca-akad nikah hingga waktu resepsi pernikahan tiba, demi Allah, aku tidak menuntut nafkah lahir maupun batin.
Tak masalah resepsi digelar 6 bulan atau satu tahun kemudian. Aku tetap di rumah orangtuaku, kamu pun begitu.
Harta dan jiwamu tak berkurang meski kamu telah memiliki istri.
Sebelum resepsi itu tiba, aku tidak akan menuntut hak apapun.
Kamu dan hartamu tetap pada takaran yang sama. Sungguh!

Bukankah aku begitu murah?

Menyerah Berusaha [24 of 1001]

Sekiranya desakanku untuk kamu segera melamar
kamu artikan sebagai "menyerah"
maka benar, i deeply give up

Sekiranya kepasrahanmu menerima penundaan waktu pernikahan dari orangtuamu
kamu artikan sebagai "berusaha"
maka benar, u hardly fight for

Demikian ternyata, aku yang harus berkaca
sepertinya aku yang tidak benar-benar cinta

Dua Syarat

Saya sangat berterima kasih atas kedatangan bapak ibu sekeluarga besar untuk melamar saya. Sebelum menyatakan bersedia atau tidak, saya ingin mengajukan dua syarat.
Pertama, saya ingin akad nikah silaksanakan maksimal dua minggu pasca-lamaran ini, tepatnya pada hari Jumat. Hal ini saya putuskan untuk menjaga nama baik kami berdua kalau terpaksa harus kemana-mana berdua mengurus hal yang berkaitan dengan resepsi pernikahan.

Kedua, karena saya tidak suka dengan kalimat "kebelet kawin" yang dilontarkan siapapun, baik serius atau bercanda, baik langsung maupun tidak langsung, maka saya ingin pasca-akad nikah kami tetap tinggal di rumah orangtua masing-masing hingga hari resepsi tiba.

Itu dua syarat yang saya ajukan dan tidak bisa ditawar. Sekiranya bapak ibu sekeluarga besar setuju, mari kita lanjutkan pembicaraan. Sekiranya bapak-ibu sekeluarga besar tidak setuju, maka saya tetap berterima kasih bapak-ibu sekeluarga besar telah sudi melepas alas kaki yang mahal untuk menginjakkan kaki dan duduk bersama di rumah kami yang sederhana ini. Terima kasih.
---

Konsep, kalo-kalo dalam waktu dekat ada yang ngelamar.

Kamis, 03 Oktober 2013

Pertanyaan [23 of 1001]

kalau ada perempuan yang mengajak kamu menikah
bukankah itu bukti kalau dia serius sama kamu
dia yakin dengan keberadaan kamu

sekarang, kenapa kamu tidak mengakui saja kalau kamu belum siap menikah?
malah berdalih belum diizinkan orang tua
kalau serius mengupayakan, izin orang tua pasti didapat
mereka pasti mengerti

nah sekarang, apa yang kamu upayakan?
sikap? sudahkah sikap kamu di hadapan orang tua terlihat pantas untuk menikah?
kebiasaan? sudahkah kebiasaan kamu mencerminkan kamu pantas mengayomi anak orang?
penghasilan? kita tak perlu bahas ini karena kita sama-sama usaha.
bukankah konsepnya 'cukup'.

Senin, 02 September 2013

Bosan

Entah kenapa, hari ini bosan. Mungkin karena nggak ada liputan.
Sudah disiasati dengan liat video-video, belajar bahasa inggris juga, tapi
kebosanan belum juga hilang.
Yah, minimal, ada belajarnya juga dikit, meski di tengah kebosanan begini.

Terus di sms sama Meta. Ditanyain tentang pernikahan, selalu.
Dan masih belum bisa jawab kapan, kecuali tahun depan.
Belum jelas sih kapannya.
Tapi semoga semuanya yang terbaik.


Penghasilan Kita [22 of 1001]

Oh, aku ingat
Kemarin kamu bilang penghasilan aku lebih besar daripada kamu
Sepertinya tidak begitu
Penghasilan kamu jauh lebih besar, sebenarnya
Dan seperti kamu bilang
Kita tidak perlu meributkan itu

Dia Bilang Pengin Naik Sepeda sama Ibunya

Pagi ini (26/8/2013), duduk-duduk di halte depan GSG Unila sambil baca koran. Niatnya mau liputan acara propti di GSG--yang ternyata cuma gladi.
Sambil baca koran, disapa sama satpam yang lagi ngatur lalu lintas.
Nggak lama dia duduk di halte juga, istirahat.

Kenal dong sama Angger--tapi kok nama di bajunya "Hadi" ya?
Dia buka suara.
"Pinggang saya keseleo ini"
"Kenapa?" Saya jadi basa-basi juga menanggapi, soalnya kan kenal.
"Abis gendong ibu saya, dari kamar ke toilet, dari toilet ke kamar. Gitu terus selama 5 tahun."

Dari kalimat terakhir, saya mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Emang ibunya kenapa?"
"Ibu saya sakit. Tumor otak. Keren ya penyakitnya. Kalo orang tua sakit gitu, kelakuannya jadi kayak anak kecil. Masak Ibu saya pernah bilang, "umi mau tidur, pingin ngimpi naik sepeda, kan dengernya gimana gitu."
Berikutnya dia cerita, pas dapet gaji 13 dia beli sepeda.

Angger bilang, tumor ibunya sudah sekitar 75 % dari besar kepalanya.
Pernah ibunya dirawat 1 bulan di RSAM.

Dia bilang, udah cari informasi berobat kemana-mana. Termasuk dia pakai smartphone bukan untuk bermain di jejaring sosial, tapi untuk cari informasi pengobatan ibunya.

Saya jadi ingat dengan Prof. Warsito. Saya ceritakan ke Angger kalau Prof. Warsito menciptakan alat untuk menghancurkan sel kanker. Terus saya bilang kalau Prof. Warsito itu temannya pak Komar, Kapuskom. Menurut saya, sebaiknya bertemu Pak Komar, supaya prosesnya lebih cepat dan informasi mengenai alatnya lebih akurat.

Angger bilang, kalau ibunya sudah sembuh, dia pengin naek sepeda sama ibunya. Gitu.