Pagi ini (26/8/2013), duduk-duduk di halte depan GSG Unila sambil
baca koran. Niatnya mau liputan acara propti di GSG--yang ternyata cuma
gladi.
Sambil baca koran, disapa sama satpam yang lagi ngatur lalu lintas.
Nggak lama dia duduk di halte juga, istirahat.
Kenal dong sama Angger--tapi kok nama di bajunya "Hadi" ya?
Dia buka suara.
"Pinggang saya keseleo ini"
"Kenapa?" Saya jadi basa-basi juga menanggapi, soalnya kan kenal.
"Abis gendong ibu saya, dari kamar ke toilet, dari toilet ke kamar. Gitu terus selama 5 tahun."
Dari kalimat terakhir, saya mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Emang ibunya kenapa?"
"Ibu
saya sakit. Tumor otak. Keren ya penyakitnya. Kalo orang tua sakit
gitu, kelakuannya jadi kayak anak kecil. Masak Ibu saya pernah bilang,
"umi mau tidur, pingin ngimpi naik sepeda, kan dengernya gimana gitu."
Berikutnya dia cerita, pas dapet gaji 13 dia beli sepeda.
Angger bilang, tumor ibunya sudah sekitar 75 % dari besar kepalanya.
Pernah ibunya dirawat 1 bulan di RSAM.
Dia
bilang, udah cari informasi berobat kemana-mana. Termasuk dia pakai
smartphone bukan untuk bermain di jejaring sosial, tapi untuk cari
informasi pengobatan ibunya.
Saya jadi ingat dengan
Prof. Warsito. Saya ceritakan ke Angger kalau Prof. Warsito menciptakan
alat untuk menghancurkan sel kanker. Terus saya bilang kalau Prof.
Warsito itu temannya pak Komar, Kapuskom. Menurut saya, sebaiknya
bertemu Pak Komar, supaya prosesnya lebih cepat dan informasi mengenai
alatnya lebih akurat.
Angger bilang, kalau ibunya sudah sembuh, dia pengin naek sepeda sama ibunya. Gitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar